Cari

Sabtu, 12 Maret 2011

Evaluasi Pelaksanaan Kampanye Pemberantassan ILLEGAL LOGGING Untuk Menurunkan Angka Kerusakan Hutan Di Kabupaten Konawe Selatan”.

BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Kampanye lingkungan merupakan aktifitas komunikasi didalam menyampaikan pesan melalui jaringan saluran komunikasi secara terpadu, dan mengorganisir aktifitas komunikasi tersebut dengan tujuan menghasilkan dampak pada individu-individu dalam jumlah besar, dan atau kelompok masyarakat sesuai dengan target yang ingin dicapai, pada satuan waktu tertentu. (Rogers & Storey, 1987).
Terlepas dari semua itu Kampanye tentang Pemberantasan pembalakan liar terus “memanas” dan “mengglobal”, Terlepas dari segala kontroversial yang masih ada, Kampanye adalah keinginan seseorang untuk mempengaruhi opini individu dan publik, kepercayaan, tingkah laku, minat, serta keinginan audiensi dengan daya tarik komunikator yang sekaligus komunikatif (Rice dan Paisley). Selanjutnya Rice dan Paisley, mendefinisikan komunikasi dalam berkampanye merupakan proses pengoperan lambang-lambang yang bernama antar individu” suatu lambang yang sama-sama dimengerti .Kampanye menggunakan interaksi simbolis artinya pengoperan symbol-simbol atau lambang-lambang komunikasi yang mempunyai makna tertentu dalam berkampanye. Lambang komunikasi itu sendiri bisa berupa bahasa, baik tulisan maupun lisan, tanda (sign), gambar-gambar, isarat tertentu yang telah dirumuskan sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian sekaligus berpengaruh terhadap pesan yang disampaikan dan pada akhirnya akan menimbulkan efek atau hasil sesuai yang telah direncanakan oleh komunikator. Dengan lambang-lambang tersebut komunikan termotivasi untuk melakukan sesuatu dengan senang hati apa yang dimaksudkan oleh komunikator. Dalam hubungan dengan interaksi simbolik tersebut maka kegiatan kampanye bersifat psikologis. Dalam pelaksanaan kegiatan kampanye, pendekatan persuasife merupakan kegiatan penting, karena di sini membahas upaya merubah perilaku individu dan massa
kampanye stop ILLEGAL LOGING telah memenuhi semua jenis media komunikasi publik di seluruh dunia. Mulai dari media cetak, radio, tv, dan internet. Tak ketinggalan dunia perfilman, isu-isu mengenai lingkungan hidup dan global warming juga telah menjadi tema banyak film yang diproduksi di berbagai negara di seluruh dunia belakangan ini. Untuk mencegah agar kondisi hutan tidak semakin rusak, dan tentunya akan berkontribusi dalam menjaga fungsi hutan sebagai penyimpan dan penyerap karbon, maka beberapa lembaga yang konsern terhadap pengelolaan hutan yang lestari dan berkelanjutan, (sustainable forest management), dimana kerugian luar biasa yang sangat sulit di atasi dan membutuhkan jangka waktu yang relatif sangat lama untuk mengembalikan hutan kita selalu dikhotbahkan diantaranya oleh Perkumpulan Telapak, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Jaringan untuk Hutan (JAUH) – Sulawesi Tenggara dan Forest Watch Indonesia (FWI), mendorong community logging menjadi salah satu solusi dalam mencegah terjadinya deforestasi dan degradasi hutan.
Di Sultra penyebar luasan informasi komunikasi turut berperan penting dalam membangun perspektif masyarakat terhadap persoalan lingkungan. Menyadari pentingnya komunikasi-informasi para pemangku kepentingan pihak dalam proses interaksi menuju terciptanya pelestarian lingkungan, Perkumpulan Wartawan Lingkungan (Green Press) Kendari yang beranggotakan wartawan-wartawan secara personal dari berbagai media di Sulawesi Tenggara (Kendari Ekspres, Kendari Pos, Media Sultra, Sultra Pos, Kendari TV, dan Radio Swara Alam) melakukan refleksi dan serangkaian kegiatan dalam momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2006 dengan tema “Pedulilah Lingkungan Sebelum Bencana Datang”. Kegiatan ini diselenggarakan untuk membangun kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan melalui publikasi, komunikasi dan informasi.
Berbagai bentuk kegiatan yang diselenggarakan oleh Green Press Kendari di antaranya: Kampanye penyelamatan lingkungan dengan ikut terlibat dalam pelestarian lingkungan hidup.
Adapun dialog-dialog dan kegiatan lain seperti:
1. Dialog Publik Pengelolaan Lingkungan Hidup dilaksanakan sebagai upaya untuk berkomunikasi langsung dengan masyarakat dan membahas masalah-masalah lingkungan hidup yang dihadapi sehari-hari.
2. Dialog Publik Pencegahan Bencana Lingkungan Hidup dengan tujuan untuk mengajak sebanyak mungkin masyarakat secara bersama mencegah terjadinya bencana lingkungan
3. Lomba Karya Tulis Ilmiah Populer Tingkat SLTA se- Kota Kendari, dengan tujuan untuk menumbuhkan kreativitas siswa dan kecintaannya pada lingkungan hidup.
Dinas Kehutanan Kab. Konawe Selatan sejak awal berdirinya sebagai kabupaten yang baru berdiri pada 2 Mei 2003, mempunyai komitmen yang tinggi untuk menjaga sumber daya hutan tetap terjaga apa lagi Kab. Konawe Selatan memiliki potensi sumber daya kehutanan yang luar biasa. Berdasarkan survei Dinas Kehutanan Sulawesi Tenggara pada 2003, Konawe Selatan memiliki luas areal tanaman perkebunan rakyat sekitar 110.200 hektar, yang terdiri dari jenis tanaman yang belum menghasilkan seluas 9.900 hektar. Sedangkan tanaman menghasilkan seluas 37.500 hektar serta tanaman tidak menghasilkan seluas 1.160 hektar.
Beberapa langkah-langkah dan kegiatan guna mendukung program kampanye lingkungan telah di jalankan oleh pemerintah Terkait (DINAS KEHUTAN) di antaranya penempatan papan-papan pengumuman, Spanduk, Baliho tentang Larangan, bahaya dan dampak negatif ilegal logging Dengan Menampilkan gambar Bupati Konawe Selatan sudah dilakukan. Ada pula Kerja sama dengan mereka yang tergabung dalam LSM Jauh (Jaringan untuk Hutan) itu membentuk Koperasi Hutan Jaya Lestari (HJL) yang tersebar di 21 desa yang ada di 4 kecamatan yaitu Lainea, Kolono,Palangga dan Andoolo.
Kegiatan lainnya meminta lembaga yang mengeluarkan sertifikat untuk melakukan penelitian yaitu Forest Steward Council (FSC). Hasilnya, FSC yang begitu ketat dalam melakukan pengawasan pada pengelolaan hasil hutan berkesimpulan bahwa, system yang mereka terapkan layak mendapat sertifikat. Lembaga ini pun akan melakukan pengawasan dan meneliti setiap 5 tahun, untuk mengetahui konsistensi masyarakat dalam menjalankan system tersebut.
Tapi, Terdapat kesenjangan yang serius antara reportase investigasi yang independen dan analitis terhadap isu-isu lingkungan dengan bagaimana sumber daya alam dikelola untuk keuntungan atau kerugian masyarakat yang ada di Indonesia.
Dengan kata lain, Seiring maraknya Kampanye komunikasi yang sudah mememenggunakan beberapa jenis media dan pendekatan komunikasi dalam menyerukan stop illegal loging, tidak mempengaruhi laju kerusakan hutan, dimana masih banyaknya terdapat masalah-masalah lingkungan yang mencuat di permukaan yang bilamana di teliti secra cermat dan mendalam selalu berpangkal pada masalah lingkungan yang rusak sepeti: hilangnya cadangan hutan di mana tempat segala jenis flora dan fauna hidup dan berkembang biak, Semakin Sulitnya Mendapatkan Sumber Air, Cuaca Yang Ekstrim dan tidak menentu, Bencana Alam, sampai pada pemanasan global yang tentunya semua itu mengancam kehidupan umat manusia di bumi ini. Disini terdapat sesuatu yang cukup Kontradiktif dan krusial dan harus segera dilihat dari sisi mana Sehingga Kampanye tidak memliki efek yang kita harapkan. Inilah yang mendorong penulis untuk melakukan suatu penelitian yang berjudul “Evaluasi Pelaksanaan Kampanye Pemberantassan ILLEGAL LOGGING Untuk Menurunkan Angka Kerusakan Hutan Di Kabupaten Konawe Selatan”.

(Sumber: Arbit-Jurusan Komunikasi FISIP)

GAYA BERKOMUNIKASI SISWA SMA NEGERI 1 KENDARI MELALUI MEDIA ONLINE

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Kecanggihan teknologi pada saat ini memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan sarana komunikasi. Salah satu kebutuhan utama bagi manusia sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi adalah kebutuhan berkomunikasi. Untuk itu di butuhkan sarana komunikasi yang dapat memberikan kemudahan dalam rangka pengiriman maupun penerimaan pesan untuk informasi yang di butuhkan.
Seiiring dengan majunya teknologi dimana semakin hari teknologi yang ditawarkan semakin canggih dan sulit untuk dipisahkan dalam kehidupan masyarakat, pengaruhnya terhadap gaya hidup khususnya dikota besar adalah salah satu dampaknya. Sebagian orang mungkin akan merasa ketinggalan zaman apabila tidak mengerti apa dan bagaimana itu internet. Menurut Ramelan, dkk (dalam Pengantar Internet 2000), internet adalah suatu jaringan komputer global terbentuk dari jaringan-jaringan komputer lokal dan regional, memungkinkan komunikasi data antar komputer-kompuer yang terhubung ke jaringan tersebut.
Melalui dunia maya, membangun relasi seluas-luasnya bisa dilakukan kapan saja. Internet telah memangkas sebagai besar kendala manusia untuk menjalin relationship dengan siapa saja. Internet sebagai media komunikasi. Melalui internet dapat dilakukan komunikasi baik antar individu maupun antar organisasi melalui fasilitas seperti e mail, fax, chatting dan teleconference (dalam nuril anwar.blog).
Belakangan masyarakat semakin gencar dengan internet karena teknologi tersebut sangat menggiurkan pemakainnya. Dengan kehadiran situs-situs jejaring sosial, internet semakin diminati. Masyarakat berlomba-lomba membeli handphone yang menyediakan fitur-fitur yang memanjakan penggunanya.
Dampak positif yang di timbulkan media internet. Misalnya sebagai sumber informasi, media komunikasi, e-commerce, media promosi, pengisian dan query data. Internet sebagai sumber menggali infomasi. Melalui internet, kita dapat mengakses infomasi global baik pada lembaga internasional seperti FAO, USDA, IMF maupun lembaga nasional seperti BPS, LIPI dan Universitas. Barangkali infomasi yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan internasional, nasional, maupun lokal yang berisi produk-produk mereka (dalam nuril anwar.blog). Disamping itu terdapat dampak-dampak negatif yang ditimbulkan dari internet, salah satunya yaitu mudahnya masyarakat dalam mengakses situs-situs porno yang mengakibatkan rusaknya moral masyarakat dan banyak situs-situs jejaring sosial yang menawarkan gratis (seperti Facebook, Twitter, etc) yang dapat menyebabkan ketergantungan pada pengguna.
Adanya internet memang sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat khususnya masyarakat dikota besar. Teknologi ini memang sulit ditolak karena teknologi ini banyak sekali meraup manfaat, walaupun menuai dampak negatif juga. Dampak teknologi internet yang maju dengan pesat ini akan dan telah merubah pola kehidupan manusia. Sekali lagi dampak baik maupun buruk yang diperoleh kembali lagi diserahkan kepada pengguna. Pengguna diharapkan untuk memanfaatkan internet secara maksimal namun dengan norma-norma yang belaku.
Di lingkungan SMA Negeri 1 Kendari pun perkembangan teknologi sangat terasa. Hampir semua siswa dan siswi di SMA Negeri 1 Kendari memiliki HP bahkan laptop sendiri. Jenisnya pun beragam dan sangat bervariasi. Semua alat komunikasi tersebut memiliki manfaat-manfaat yang berguna bagi para pemakainya selain untuk telepon dan sms. Misalnya untuk mengakses internet lewat HP dengan koneksi GPRS, dan Laptop dengan koneksi Wifi yang sudah banyak di sediakan di sekolah¬sekolah saat ini termasuk di SMA Negeri 1 Kendari.
Siapa yang tidak kenal dengan internet? Tentunya setiap siswa dan siswi di SMA Negeri 1 Kendari sudah sangat akrab dengan kata tersebut. Dengan alat-alat yang mereka miliki, para siswa dan siswi dapat mengakses internet kapanpun dan dimanapun mereka mau (dengan koneksi tentunya). Beberapa site yang paling sering dikunjungi adalah yahoo, yahoo messenger untuk chatting, wikipedia serta blog untuk mencari informasi, facebook, dan twitter.
Dewasa ini siapa yang tidak tahu tentangmedia online yang berupa facebook, dan twitter adalah sebuah situs jaringan sosial yang sedang digemari oleh banyak orang saat ini, terutama di kalangan para remaja. Hampir 99% remaja yang apabila ditanya apakah mereka mengetahui tentang facebook, dan twitter atau tidak pasti akan langsung menjawab ’iya’. Hal ini disebabkan karena facebook dan twitter yang sedang trend remaja saat ini. Bahkan sudah dianggap sebagai bagian dari gaya pergaulan mereka.
Berikut ini penulis menguraikan sebuah ilustrasi sebagai berikut:
Seorang anak dikenal sebagai anak yang pemalu disekolahnya, di sekolah tidak banyak yang dilakukannya. Saat istirahat pun saat rekan-rekannya sibuk mengobrol dan bersenda gurau dengan teman sebaya, ia malah asyik dengan dirinya. Jika tidak diperpustakaan untuk membaca maka yangdilakukan hanya sendirian menikmati makan siangnya. Tetapi keadaannya berbeda sekali ketika ia sampai dirumah. Sesampainya dirumah ia langsung menghubungkan komputernya dengan internet. Di internet diluar dugaan ternnyata banyak sekali teman yang dimilikinya. Lewat situs jejaring social (social networking sites) seperti friendster, facebook dan lainnya teman yang dipunyainya ada puluhan bahkan mendekati ratusan. Jika didunia nyata teman-teman yangdimiliki hanya sedikit, didunia maya teman-temannya banyak sekali.
Berdasarkan ilustrasi di atas, maka perlunya melakukan analisa terhadap pola kehidupan siswa di sekolah maupun di rumah sebagai berikut; (1). Internet bisa menjadi pelarian dari kehidupan nyata bagi siswa, dengan demikian jika dalam kehidupan nyata dia gagal melakukan pertemanan, di dunia maya tinggal tekan tombol bertambahlah satu lagi temannya. (2). Kebutuhan berkomunikasi adalah sifat dasar manusia, jika terhalang dalam satu kesempatan maka individu akan melakukannya dengan fasilitas lain dalam kesempatan yang lain pula. (3). Teknologi internet memungkinkan seseorang ‘merasa’ mempunyai pertemanan dan jaringan sosial, padahal belum tentu juga ada keterikatan emosi yang terjadi disitu. (4). Siswa dan siswi kita mempunyai dua arena bermain, dunia nyata dan dunia maya. (5). Disekolah guru kurang mencermati kepribadian siswa jenis ini, akibatnya penggunaan metode belajar yang membuat anak mau berpikir kritis serta berperan sebagai komunikator yang efektif juga jarang dilakukan.
Banyak sekali para remaja yang senang mengunjungi dan menggunakan situs ini adapun jumlah pengguna situs Facebook di Indonesia sekitar 2 jutaan orang untuk saat ini dan Twitter sekitar 1 jutaan lebih yang menggunakannya di indonesia. Begitupun dengan para siswa dan siswi SMA Negeri 1 Kendari yang sudah termasuk dalam pengguna situs tersebut. Saat ini banyak sekali dari mereka yang menggunakan facebook, dan twitter sebagai sarana komunikasi. Bahkan banyak di antara mereka yang sudah menjadi facebook, dan twitter mania yaitu sebuah komunitas bagi para pengguna facebook, dan twitter yang sangat suka menggunakan facebook, dan twitter. Namun seperti semua hal yang ada di dunia ini, facebook, dan twitter pasti memiliki dampak¬-dampak atau pengaruh-pengaruh bagi para penggunanya. Termasuk pengaruh terhadap komunikasi para penggunanya. Hal inilah yang akan diteliti lebih lanjut dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini juga akan membahas tentang trend berkomunikasi siswa dan siswi SMA Negeri 1 Kendari melalui media online seperti facebook, dan twitter.

(sumber: Arbit-Jurusan Komukasi Fisip Unhalu)

Jumat, 11 Maret 2011

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DI SMP

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Banyak yang menyatakan bahwa pendidikan di indonesia di kembangkan melalui lembaga- lembaga formal dan non formal.dari kedua lembaga pendidikan ini, lembaga pendidikan formal memegang peranan yang sangat penting dalam mendidik siswa menjadi kader penulis bangsa .sekolah menengah pertama (SMP) merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang berada di bawah dirjen pendidikan dasar dan menengah.salah satu mata pelajaran yang di sajikan pada sekolah menengah pertama ini adalah pengetahuan sosial (PS), di mana mata pelajaran ini di bagi dalam tiga bagian yaitu ps ekonomi,ps geografi, dan ps sejarah.
Dalam kaitannya dengan upaya peningkatan prestasi belajar pengetahuan sosial,pemerintah sudah melakukan berbagai upaya seperti penyempurnaan kurikulum,pengadaan buku- buku paket pengetahuan sosial peningkatan pengetahuan guru mata pelajaran pengetahuan sosial yaitu melalui penataran,baik secara regional mapn nasional.dan salah satu contoh kasus yang menbuktikan fenomena tersebut adalah ketika orang ramai-ramai menuduh guru sebagai faktor utama penyebab rendahnya mutu lulusan di tingkat sekolah, dengan alasan bahwa (1) guru yang paling banyak bersentuhan langsung dengan proses pendidikan tingkat sekolah. (2) guru- guru yang ada saat itu tidak memiliki kompotensi di bidangnya alias bermutu atau kualitas sehingga memiliki pengaruhyang signifikan terhadap mutu lulusan (3) waktu guru lebih banyak tersita untuk memikirkan kebutuhan hidupnya dari pada memikirkan tugasnya keseharian sehingga guru, dan (4) rendahnya anggapan pendidikan yang di berikan oleh pemerintah dalam menetapkan gaji guru
Berbagai alasan yang mengemukan hal tersebut di jadikan sebagai bukti bahwa guru merupakan penyebab rendahnya mutu lulusan sekolah atau permasalahan- permasalahan ini merupakan faktor yang banyak berbicara pada tataran makro,padahal seharusnya unsur- unsur mikro tidak boleh di sepelekan. Pada tataran mikro mutu pendidikan tidak mungkin tercapai tanpa reformasi peserta didiknya yang produktif dan berprestasi,karena peserta didik (siswa) merupakan salah satu sumber daya manusia yang menentukan mutu pendidikan.
Dalam berbicara mengenai kegiatan belajar, maka tidak terlepas dari dari faktor- faktor yang mempengaruhi belajar menurut slameto (1987:54) faktor- faktor yang mempengaruhi belajar adalah yang berasal dalam diri siswa(internal) yang meliputi faktor jasmani, faktor psikologi, faktor kelelahan dan faktor yang berasal dari luar siswa (eksternal) yang meliputi faktor-faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat.motivasi belajar merupakan salah satu faktor internal yang dapat mempengaruhi hasil- hasil belajar. Siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi akan lebih memehami dan menguasai materi pelajaran yang di bandingkan dengan siswa yang kurang termotivasi dalam belajarnya. Karena motivasi terkandung adanya keinginan, harapan, kebutuhan dan tujuan sehingga sehingga kekuatan utama yang menggerakan dan mengarahkan sikap dan perilku, siswa untuk belajar.sebab menurut usman (2000:28) motivasi merupakan pendorong timbulnya suatu tingkah laku. Dalam pengertian ini dapat di simpulkan bahwa timbulnya tingkah laku yang di maksud adalah keinginan belajar, atau keinginan –keinginan lain yang di lakukan untuk mencapai tujuan,yaitu prestasi belajar.
Dengan adanya asumsi dan kalangan siswa bahwa pengetahuan sosial merupakan mata pelajaran yang sulit dan mempunyai banyak materi telah menyebabkan kurangnya motivasi siswa dalam belajar.sehingga dalam proses belajar- mengajar, pengetahuan sosial perhatian siswa terhadap mata pelajaran sangat kurang. Sehingga di dalamnya proses pembelajaran motivasi merupakan hal yang sangat penting yang harus di miliki oleh siswa untuk mencapai prestasi belajar yang lebih baik.hal ini di pengaruhi oleh fenomena yang berkembang di kalangan siswa yang menggangap belajar pengetahuan sosial adalah sesuatu yang sangat membosankan bagi mereka persoalan –persoalan seperti ini menjadi bahan yang meanarik perhatian peneliti untuk di teliti dengan mengunakan pendekatan ilmiah utamanya mencari hubungan yang signifikan antara motivasi dan prestasi belajar.
Berdasarkan urian diatas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul” hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial di SMP Negeri 10 Kendari”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di kemukan di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran motivasi belajar siswa pada mata pelajaran pengetahuan sosial di SMP Negeri 10 Kendari?
2. Bagaimana prestasi belajar siswa pada mata pelajaran pengetahuan sosial di SMP Negeri 10 Kendari?
3. Apakah ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran pengetahuan sosial di SMP Negeri 10 Kendari?
C. Tujuan penelitian
Adapun tujuan yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan gambaran motivasi belajar siswa pada mata pelajaran pengetahuan sosial di SMP Negeri 10 Kendari.
2. Untuk mengetahui gambaran prestasi belajar siswa pada mata pelajaran pengetahuan sosial di SMP Negeri 10 Kendari.
3. Untuk mengetahui besarnya hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran pengetahuan sosial di SMP Negeri 10 Kendari.
D. Manfaat Penelitian
1. Siswa melalui penelitian ini di harapkan mereka memiliki kesadaran penuh bahwa belajar mata pelajaran pengetahuan sosial bukanlah suatu hal yang membosankan, dan mereka perluh membutuhkan dorongan serta membangkitkan seluruh kemampuan yang ada dalam diri mereka untuk mencapai prestasi belajar yang lebih baik.
2. Guru, untuk lebih mengembangkan kemampuan mereka tidak hanya dalam transfer pengetahuan tetapi juga dalam transfer nilai-nilai yang dapat membangkitkan semangat, kesadaran dan motivasi siswa dalam belajar sehingga dapat tercapai prestasi belajar yang lebih baik
3. Menjadi bahan pertimbangan bagi peneliti selanjutnya.

BAB I1
KAJIAN PUSTAKA
A. Konsep Belajar
Belajar adalah suatu proses usaha yang di lakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto,2004:2)
Sardiman (1987:23) menyatakan bahwa belajar adalah usaha mengubah tingkah laku, belajar akan membawa perubahan tingkah laku pada individu yang belajar di mana perubahan itu akan tampak pada semua aspek tingkah laku sehingga belajar dapat di katakan rangkaian kegiatan jiwa raga psikofisik untuk menuju perkembangan pribadi seutuhnya yang menyangkut unsur kognitif, unsur afektif, dan psikomotorik.
Belajar merupakan kegiatan mental yang tidak dapat di saksikan dari luar,apa yang sedang terjadi di dalam diri siswa yang sedang belajar tidak dapat di ketahui secara langsung dengan mengamati siswa. bahkan hasil pelajaran tidak dapat di lihat tanpa melakukan sesuat dampak yang telah di peroleh melalui belajar.berdasarkan sikap yang di saksikan dapat di ambil kesimpulan bahwa siswa telah belajar.(Winkel,w.s 1987:113)
Menurut Nasution (1997:3) belajar dapat diartikan sebagai proses memperoleh berbagai kecakapan,keterampilan dan sikap belajar mulai dari masa kecil ketika bay memperoleh sejumlah keterampilan yang sangat sederhana
Hamalik (1983:21) mengartikan belajar sebagai suatu perubahan dalam cara- cara dalam bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.
B. Konsep Motivasi
Motivasi merupakan bagian penting dalam menumbuhkan kualitas belajar peserta didik.hal ini di mungkinkan karena dengan motivasi ada dorongan dasar yang mengerakan seseorang untuk bertingkah laku dorongan ini berada pada diri seseorang (siswa) yang mengerakan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Dorongan ini merupakan kekuatan tersembunyi dalam diri manusia yang mendorongnya untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara khas. Kadang kekuatan ini berpangkal pada naluri,kadang pula berpangkal pada suatu keputusan rasional tetapi lebih sering lagi hal itu merupakan perpaduan dari kedua proses tersebut.(Davies,1991:214)
Huitt, W. (2001:23) mengatakan motivasi adalah suatu kondisi atau status internal (kadang-kadang diartikan sebagai kebutuhan, keinginan, atau hasrat) yang mengarahkan perilaku seseorang untuk aktif bertindak dalam rangka mencapai suatu tujuan. Jadi ada tiga kata kunci tentang pengertian motivasi menurut Huitt, yaitu: (1) kondisi atau status internal itu mengaktifkan dan memberi arah pada perilaku seseorang;( 2) keinginan yang memberi tenaga dan mengarahkan perilaku seseorang untuk mencapai suatu tujuan; (3) Tingkat kebutuhan dan keinginakan berpengaruh terhadap intensitas perilaku seseorang.
Menurut Usman (2000:28) motivasi adalah proses untuk mengiatkan motif- motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dalam mencapai tujuan, atau keadaan dan persiapan dalam diri individu yang yang mendorong tingkah laku untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu atau dengan kata lain motivasi merupakan segala sesuatu yang menjadi pendorong timbulnya suatu tingkah laku.
Nasution dalam murhum (1991:11) mengatakan bahwa keberadaan motivasi belajar dalam diri siswa merupakan syarat agar siswa itu di dorong oleh kemauannya sendiri untuk mengatasi berbagai kesulitan yang di hadapanya dan lebih lanjut siswa tersebutakan lebih kreatif dan produktif dalam belajar. Sedangkan menurut sardiman (1986:75) mengemukan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya pengerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar,sehingga tujuan yang di kehendaki dari subyek belajar dapat tercapai.
Untuk mengetahui seseorang itu menpunyai motivasi terhadap kegiatan tertentu, maka ciri- ciri yang nampak pada tersebut.Menurut Munandar (1985 :34) motivasi belajar adalah sebagai berikut:(1) Tekun menghadapi tugas,(2) Ulet menghadapi kesulitan, (3) Ingin mendalami bahan/ bidang pengetahuan yang di berikan dalam kelas, (4) Selalu berusaha untuk berprestasi sebaik mungkin, (5) Senang dan rajin belajar dan penuh semangat.
Selanjutnya Sardiman (1986:82-83) menyatakan ciri- ciri yang nampak pada orang yang mempunyai motivasi adalah sebagai berikut: (1) Tekun menghadapi tugas, (2) Ulet menghadapi kesulitan, (3) Menunjukan minat terhadap macam – macam masalah, (4) Lebih senang kerja sendiri, (5) Cepat bosan pada tugas – tugas yang rutin atau (hal- hal yang bersifat mekanis, berulang – ulang begitu saja sehingg kreatif), (6) dapat mempertahankan pendapatnya, (7) tidak mudah melepaskan hal – hal yang di yakinkannya, (8) senang mencari dan memecahkan masalah dari soal – soal.
Menurut Hermine Marshall Istilah motivasi belajar mempunyai arti yang sedikit berbeda. Ia menggambarkan bahwa motivasi belajar adalah kebermaknaan, nilai, dan keuntungan-keuntungan kegiatan belajar belajar tersebut cukup menarik bagi siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Pendapat lain motivasi belajar itu ditandai oleh jangka panjang, kualitas keterlibatan di dalam pelajaran dan kesanggupan untuk melakukan proses belajar (Ames, 1990:21)
Menurut Sabri (1985:85) bahwa motivasi terdiri atas dua bagian yaitu (1) motivasi instrinsik dan (2) motivasi ekstrinsik.
Motivasi intrinsik merupakan motif- motif yang terjadi aktif karena adanya dorongan dari dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu dan menyadari apa yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan. Motivasi intrinsik sering disebut motivasi murni atau motivasi yang sebenarnya, yang timbul dari dalam diri siswa yang erat hubungannya dengan tujuan belajar, misalnya ingin memahami suatu konsep- konsep ingin memperoleh ilmu pengetahuan, maupun memperdalam keterampilan- keterampilan tertentu.
Motivasi ekstrinsik adalah motif- motif yang menjadi aktif karena adanya dorongan atau perangsangan dari luar individu sehingga dapat melakukan sesuatu. Motivasi ekstrinsik muncul dari luar diri siswa yang tidak ada kaitannya dengan tujuan,tetapi motivasi ini muncul karena adanya rangsangan dari luar, seperti belajar karena takut kepada guru, belajar untuk mendapatkan hadiah,atau belajar untuk menghindari hukuman.
Kedua jenis motivasi tersebut sangat berperan dalam belajar baik motivasi instrinsik maupun motivasi ekstrinsik.keduanya merupakan motif atau dorongan yang mengaktifkan siswa untuk belajar.dengan motivasi inilah siswa menjadi tekun dalam belajarnya dan dengan motivasi itu pula prestasi belajar siswa kemungkinan dapat meningkat.siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi dalam hal ini belajar pengetahuan sosial akan mengarahkan perhatiannya pada pencapaian prestasi belajar pengetahuan sosial yang tinggi.hal ini sejalan dengan pendapat yang di kemukakan.
Kartono (1985:3) menyatakan, bahwa dengan adanya motivasi belajar yang kuat akan memperbesar kegiatan usaha siswa untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi dan bila motivasi tersebut akan makin berkurang maka berkurang pulalah usaha dalam kegiatan serta kemungkinan mencapai prestasi belajar yang kuat.dengan demikian bahwa dalam belajar,motivasi belajar sangat memegang peranan penting,bagi siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi,maka akan berusaha belajar dengan sebaik-baiknya guna mendapat nilai dan dengan motivasi itu prestasi siswa dapat meningkatkan
C. Hakekat Prestasi belajar
1..Konsep Prestasi
Kata prestasi menurut Poerwadarminta (2002:768) adalah “hasil yang telah dicapai atau dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya”. Menurut Winkel (1991:162) “prestasi adalah bukti keberhasilan usaha yang dicapai”. Prestasi merupakan kecakapan atau hasil kongkrit yang dapat dicapai pada saat atau periode tertentu. Berdasarkan pendapat tersebut, prestasi dalam penelitian ini adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam proses pembelajaran.
(http://sobat baru.blogspot.com/2008/06/pengertian-prestasi-belajar.html/)
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan. Gagne menyatakan bahwa prestasi belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu : kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Menurut Faizal,(1982: 121) bahwa hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Belajar menurut Natawidjaja dan Moleong adalah “suatu proses perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri seseorang”. Hamalik mengatakan belajar adalah modifikasi untuk memperkuat tingkah laku melalui pengalaman dan latihan serta suatu proses perubahan Atingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh beberapa perubahan tingkah laku tang relatif tetap sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman dengan lingkungannya.
Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai seorang siswa setelah mengikuti pelajaran di sekolah sehingga terjadi perubahan dalam dirinya dengan melihat hasil penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan oleh guru setelah mengikuti asessment atau penilaian dan evaluasi. Penilaian dan evaluasi ini digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa yang merupakan tujuan dari pembelajaran
Setiap aktifitas yang dilakukan oleh seseorang tentu ada faktor - faktor yang mempengaruhinya, baik yang cenderung mendorong maupun yang menghambat (Slamento, 2003: 54) Demikian juga dialami belajar, faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa itu adalah sebagai berikut :
a. Faktor internal.
Faktor internal ada1ah faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor ini dapat dibagi dalam beberapa bagian, yaitu :
1) Faktor lntelegensi
Intelegensi dalarn arti sernpit adalah kemampuan untuk mencapai prestasi di sekolah yang didalamnya berpikir perasaan. Intelegensi ini memegang peranan yang sangat penting bagi prestasi belajar siswa. Karena tingginya peranan intelegensi dalam mencapai prestasi belajar maka guru harus memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bidang studi yang banyak membutuhkan berpikir rasiologi untuk rnata pelajaran matematika.
2) Faktor Minat
Minat adalah kecenderungan yang mantap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang tertentu. Siswa yang kurang beminat dalam pelajaran tertentu akan rnenghambat dalam belajar.
3) Faktor Keadaan Fisik dan Psikis
Keadaan fisik rnenunjukkan pada tahap pertumbuhan, kesehatan jasmani, keadaan alat - alat indera dan lain sebagainya. Keadaan psikis menunjuk pada keadaan stabilitas / Iabilitas mental siswa, karena fisik dan psikis yang sehat sangat berpengaruh positif terhadap kegiatan belajar mengajar dan sebaliknya.
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor dan luar diri siswa yang mempengaruhi prestasi belajar. Faktor eksternal dapat dibagi rnenjadi beberapa bagian, yaitu :
1) Faktor Guru
Guru sebagai tenaga berpendidikan rnemiliki tugas menyelenggarakan kegiatan belajar rnengajar, rnembimbing, melatih, mengolah, meneliti dan mengembangkan serta memberikan pelalaran teknik karena itu setiap guru harus memiliki wewenang dan kemampuan profesiona1, kepribadian dan kemasyarakatan.
Guru juga rnenunjukkan flexibilitas yang tinggi yaitu pendekatan didaktif dan gaya memirnpin kelas yang selalu disesuaikan dengan keadaan, situasi kelas yang diberi pelajaran, sehingga dapat rnenunjang tingkat prestasi siswa semaksimal mungkin.
2) Faktor Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga turut mempengaruhi kemajuan hasil kerja, bahkan mungkin dapat dikatakan menjadi faktor yang sangat penting, karena sebagian besar waktu belajar dilaksanakan di rumah, keluarga kurang mendukung situasi belajar. Seperti kericuhan keluarga, kurang perhatian orang tua, kurang perlengkapan belajar akan mempengaruhi berhasil tidaknya belajar.
3) Faktor Sumber - Sumber Belajar
Salah satu faktor yang rnenunjang keberhasilan dalam proses belajar adalah tersedianya sumber belajar yang memadai. Sumber belajar itu dapat berupa media alat bantu belajar serta bahan baku penunjang. AIat bantu belajar merupakan semua alat yang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam melakukan perbuatan belajar. Maka pelajaran akan lebih menarik, menjadi konkret, mudahernal
Berdasarkan pemahaman di atas maka prestasi belajar merupakan hasil belajar yang telah dicapai menurut kemampuan yang tidak dimiliki dan ditandai dengan perkembangan serta perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang diperlukan dari belajar dengan waktu tertentu, prestasi belajar ini dapat dinyatakan dalam bentuk nilai dan hasil tes atau ujian
Teori Prestasi McCleland adalah Teori dorongan berprestasi dikemukakan oelh David McCleland. McCleland adalah seorang ahli psikologi sosial yang memusatkan perhatian pada kepribadian sebagai pendorong utama perubahan. Menurutnya, karena semangat kewiraswastaanlah yang mendorong perkembangan ekonomi, maka tugas teoritisi adalah menerangkan sebab-sebab kemunculan semnagat itu.
Semangat itu dicontohkan dalam diri pengusaha yang berlawanan dengan bayangan umum, tidak hanya didorong oleh motif untuk mencari keuntungan, tetapi lebih didorong oleh hasrat kuat untuk berprestasi, untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih baik. Keuntungan hanyalah salah satu diantara beberapa ukuran tentang seberapa bail pekerjaan telah dikerjakan namun keuntungan tidak harus menjadi tujuan itu sendiri.
Tesis dasar McCleland adalah bahwa “masyarakat yang tinggi tingkat kebutuhan untuk berprestasinya, umumnya akan menghasilkan wiraswastaan yang lebih bersemangat dan selanjutnya menghasilkan perkembangan ekonomi yang lebih cepat. Kebutuhan untuk berprestasi yang dilambangkan dengan n-Ach atau need for Achievment adalah salah satu dasar kebutuhan manusia, dan sama dengan motif-motif lainnya, kebutuhan untuk berprestasi ini adalah hasil dari pengalaman sosial sejak kanak-kanak. Jadi, berbagai faktor sosial yang mempengaruhi cara-cara memelihara anak, selanjutnya akan membantu atau merintangi perkembangan pertumbuhan untu berprestasi. Kebutuhan untuk berprestasi ini juga adalah fungsi dari bermacam-mcam bahan bacaan yang disodorkan kepada anak.
Dengan demikian berdasarkan teori tersebut, maka David McCleland menyimpulkan “Bila kebutuhan berprestasi ini sangat berkembang, maka individu akan menunjukan perilaku yang tepat, mewujudkan semangat dalam belajar, dan karena itu siswa akan bertindak atau berusaha untuk mewujudkan tujuannya yaitu berusaha mewujudkan prestai belajar. (http://bro80.blogspot.co.2008/06/teori-prestasi-mccleland.html)
Prestasi belajar menunjukan hasil belajar yang telah di capai seseorang siswa yang di tunjukan oleh perubahan tingkah laku setelah melakukan proses belajar.
Menurut Winkel (1984:102) bahwa prestasi belajar yang di hasilkan oleh siswa mengakibatkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan atau pemahaman, bidang keterampilan dan sikap. Perubahan ini dapat di amati dari prestasi belajar yang diperoleh peserta didik melalui alat ukur berupa evaluasi hasil belajar yang diberikan oleh Guru.
Menurut M. Ngalim Purwanto, mengatakan bahwa “Belajar adalah tingkah laku yang mengalami perubahan, karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti perubahan dalam pengertian pemecahan masalah/berfikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan,atau pun sikap”.Setelah kita mengetahui dan memahami pengertian diatas, maka dapat dipahami kata “prestasi” dan “belajar”. Prestasi pada dasarnya prestasi yang diperoleh dari suatu aktivitas, sedangkan belajar pada dasarnya adalah proses yang mengakibatkan perubahan pada diri individu yaitu perubahan tingkah laku.
Menurut makna leksikal prestasi belajar diartikan sebagai hasil yang di capai (Poerwadarminta 1992: 768) sebenarnya istilah prestasi belajar bukan hal yang asing bagi mereka yang berkecimpung dalam kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Banyak pengertian yang sudah dikemukakan oleh para ahli maupun peneliti dibidang ini.
Arifin (1991:23) menyatakan bahwa prestasi belajar adalah bukti keberhasilan usaha yang dicapai dalam waktu tertentu, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar berdasarkan ketentuan penilaian secara objektif, menyeluruh dan berkesinambungan.
Abu Ahmadi (1994:132) yang melihat dari subyek yang melakukan usaha belajar mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah tingkat pencapaian yang berhasil di capai siswa dalam proses pendidikan selama jangka waktu tertentu di mana untuk mengetahuinya dengan menggunakan alat tes prestasi belajar.
Menurut Djamarah (1994:21) bahwa prestasi belajar adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan pada mereka dan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum. Berdasarkan pengertian ini disimpulkan bahwa prestasi adalah hubungan dengan hasil yang dicapai selama mengikuti kegiatan belajar.
Sedangkan belajar menurut Suryabrata (1988: 232) adalah perubahan dari sisi prilaku, aktual maupun potensial. Perubahan itu berbentuk suatu kecakapan baru, dan perubahan itu diperoleh melalui usaha secara sadar. Jadi dengan demikian dapat dirumuskan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku dari tidak tau menjadi tau yang diperoleh melalui usaha secara sadar dan terus menerus.
Berdasarkan kedua pengertian tersebut, maka disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai siswa dalam bentuk nilai atau angka yang diperoleh melalui penilaian atau evaluasi setelah mengikuti kegiatan belajar selama priode tertentu. Penilaian hasil belajar tersebut diarahkan pada perubahan sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Simanjuntak (1993: 3) mendefinisikan bahwa belajar adalah perubahan yang relatif menetap dalam potensi tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari latihan dengan penguatan dan tidak termaksud perubahan-perubahan karena kematanga, kelelahan atau kerusakan pada susunan saraf atau dengan kata lain bahwa mengetahui dan memahamai sesuatu sehingga terjadi perubahan dalam diri seseorang yang belajar untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkunganya. Belajar adalah sikap perubahan yang relatif menutup dalam tingkah laku yang terjadi sebagai pengalaman atau latihan. Pengertian belajar lebih menekankan pada kegiatan mental, psikologis, sehingga perubahan yang terjadi bersifat relatif permanen. Belajar adalah suatu proses dimana seorang mengalami perubahan tingkah laku sebagai hasil dari latihan. ( Simanjuntak 1993: 38)



D. Hubungan Antara Motivasi Belajar Dengan Prestasi Belajar
Pada penjelasan sebelumnya dikemukakan bahwa motivasi belajar merupakan kondisi atau keadaan yang mengaktifkan atau memberiakn dorongan kepada siswa untuk bertingkah laku( belajar) dengan tujuan untuk mencapai prestasi belajar dalam pengertian ini terkandung dua hal,yaitu: (1) motivasi itu sendiri dan (2) tujuan belajar.
Kedua hasil tersebut memiliki keterkaiatan yang erat. Dalam gambar 1 berikut di jelaskan hubungan-hubungan tersebut.
Gambar 1. hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar.




Motivasi belajar sebagai pengerak yang berasal dari siswa setelah


Motivasi belajar sebagai pengerak yang berasal dari siswa setelah memberikan rangsangan untuk berperilaku atau bertindak (belajar) untuk mencapai tujuan belajar yaitu prestasi belajar. Sementara dorongan atau rangsangan itu sendiri di pengaruhi oleh faktor instrinsik dan faktor ekstrinsik secara bersamaan.
Pada mata pelajaran pengetahuan sosial semua unsur yang terdapat dalam motivasi ini sangat penting dimiliki oleh para siswa. proses belajar mengajar membutuhkan kesiapan diri siswa untuk belajar pelajaran pengetahuan sosial (ps) dan dorogan luar. Setelah itu, maka prilaku siswa sudah bisa diarahkan untuk bertindak (belajar). Tujuan belajarnya adalah untuk mencapai prestasi belajar pengetahuan sosial yang lebih baik atau mampu memberikan nilai positif bagi peningkatan prestasi belajar pada mata pelajaran sosial siswa.

E. Penelitian Yang Relevan
Adapun penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Sumiati (2002) dengan judul hubungan antara motivasi belajar matematika siswa SLTPN 1 Napabalano menyimpulkan bahwa antara motivasi belajar dengan prestasi belajar matematika siswa SLTPN 1 Napabalano memiliki hubungan signifikan dengan nilai korelasi r = 0,66380.
sementara penelitian lain yang dilakukan oleh Ros (2002) dengan judul pengaruh motivasi siswa terhadap prestasi belajar mata pelajaran pengetahuan sosial siswa kelas II SLTPN 1 Tomia, menyimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan motifasi terhadap presatasi belajar siswa pada mata pelajaran pengetahuan sosial dengan koefisien determinasi (r2) =66,63%
adapun penelitian yang di lakukan oleh Lutfi (2002: 28) juga telah melakukan penelitian sehubungan dengan prestasi belajar.penelitian ini berbicara tentang hubungan motivasi belajar dengan prestasi belajar matematika.hasilnya juga menunjukan hubungan yang positif antara motivasi belajar dengan motivasi belajar matematika.
Penelitian yang sama telah di lakukan oleh Musliana (1996:23) juga mengemukakan hal yang sama dengan hasil penelitian sebelumnya,bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi siswa dalam bidang keahlian akuntasi dengan prestasi belajar siswa kelas II SMK Negeri I Kendari.
Beberapa hasil penelitian yang telah di kemukan diatas menunjukan bahwa keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran, tidak bisa terlepas dari dorongan atau keinginan yang kuat yang lahir dalam diri siswa sendiri.Dalam hal ini adalah motivasi siswa memilikiperan yang cukup besar untuk menumbuh tingkat partisipasi siswa dalam proses belajar baik secara individu,kelompok maupun proses belajar yang berlangsung di kelas.Kaitannya dengan hal tersebut,makna penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti disini juga menunjukan indikasi yang sama.Motivasi siswa di nilai sangat penting disini juga menunjukan indikasi yang sama.Motivasi siswa di nilai sangat penting bagi proses pembelajaran mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial.

F. Kerangka Berfikir
Suatu proses belajar dapat berjalan dengan efektif apabila seluruh komponen yang membentuk kegiatan belajar mengajar saling mendukung. Adapun komponen-komponen yang dimaksud adalah siswa, guru, kurikulum, metode sarana dan prasarana, media dan evaluasi. Komponen-komponen kegiatan belajar tersebut saling berinteraksi satu dengan yang lain serta bermuara pada tujuan.
Namun perlu disadari, bagaimana sebaiknya kurikulum, lengkapnya sarana dan media, cakapnya dan mengelolahnya proses belajar mengajar tidak akan berarti bila siswa tidak sungguh-sungguh dalam belajarnya oleh karena itu guru dituntut supaya selalu membangkitkan motivasi belajar siswa.
Pada garis besaranya, motivasi belajar mengandung nilai-nilai sebagai berikut:
1. Motivasi belajar menentukan tingkat berhasil atau gagalnya kegiatan belajar siswa.
2. Pembelajaran yang motivasi pada hakekatnya adalah pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, dorongan motif, minat yang ada pada diri siswa.
3. Motivasi belajar merupakan salah satu faktor yang menentukan pembelajaran yang efektif.









G. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan landasan teori yang mendukung penelitian ini. Maka dapat di temukakan hipotesis sebagai berikut:
H1 : terdapat hubungan yang signifikan anatara motivasi belajar dengan prestasi belajar pada mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial di SMP Negeri 10 Kendari.
Secara statistik dapat di nyatakan dengan rumus:
H0:P = 0 lawan H1 = P # 0
Di mana :
P : koefesien korelasi motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa SMP Negeri 10 kendari

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian korelasi yang dapat mengetahui hubungan sebab akibat dan mendeskripsikan antara dua variabel atau hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Seperti antara variabel X dan variabel Y. di mana variabel X adalah motivasi belajar siswa sedangkan variabel Y adalah prestasi belajar siswa.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 10 Kendari di mulai tanggal 20 oktober samapae dengan 10 November 2010.
C. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian korelasi yang mendeskripsikan antara variabel yaitu variabel X dan variabel Y. variabel X adalah motivasi belajar siswa sedangkan variabel Y adalah prestasi belajar hubungan antara variabel ini dapat digambarkan sebagai berikut
X Y
Di mana:
X = motivasi siswa
Y = prestasi belajar siswa



D. Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto 1993: 118) populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Kendari tahun pelajaran 2009/2010 sebanyak 181 orang yang dibagai 5 kelas paralel.
Tabel 1. Populasi penelitian
No Kelas Jumlah siswa Keterangan
1 VIIIA 22 siswa N1
2 VIIIB 23 siswa N2
3 VIIIC 22 siswa N3
4 VIIID 22 siswa N4
5. VIIIE 23 siswa N5

Guna memperoleh sampel yang repersentatif maka metode penarik sampel menggunakan tehnik Eluster Random Sampling dengan ukran sampel yang di inginkan sebanyak 122 orang.
E. Instrumen dan Tehnik Pengumpulan Data
1. Instrumen
Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah Angket yang berisi pertanyaan tentang motivasi belajar siswa dengan hasi konsultasi dengan pembimbing. Selanjutnya utunk mengatur validitas instrumen, digunakan koefisien korelasi product moment dari pearson yaitu:

Keterangan: rxy= korelasi antara variabel X dan Y
X = skor butir angket motivasi
Y = prestasi belajar
N = jumlah responden
(Sudjana, 2005: 369)
Selanjutnya untuk menguji signifikan korelasi (rxy) dengan menggunakan uji-t, dengan rumus:
thitung =
keterangan:
thitung = nilai signifikan
n = jumlah sampel
r = nilai koefisien korelasi
(Sudjana, 2005:377)
Untuk dapat mengetahui bahwa skor motivasi belajar siswa SMP Negeri 10 Kendari tersebar dari skor 28 (terendah) sampai dengan skor 60 (tertinggi), nilai rata-rata 40.76786 dan standar deviasi 5.45412.
Selanjutnya berdasarkan pada tabel 1.berikut tentang distribusi frekuensi motivasi belajar siswa menunjukan bahwa 16 siswa atau 14,28 % siswa dapat digolongkan dengan motivasi tinggi, 80 siswa atau 71.42% siswa dapat di golongkan dengan motivasi sedang, dan 16 siswa atau 14.28% siswa dapat di golongkan motivasi terendah.
Tabel 1. distribusi frekuensi motivasi belajar pada mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial SMP Negeri 10 Kendari.
interval frekuensi persentasi kategori
46.22198 ≤ X 16 14.2857 tinggi
35.31374 ≤ X ≤ 46.22198 80 71.42857 sedang
X ≤ 35.31374 16 14.2857 rendah
Untuk dapat mengetahui bahwa nilai prestasi belajar siswa SMP Negeri 10 Kendari pada mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial tersebar dari nilai 6.00 (terendah) sampai dengan nilai 8.83 (tertinggi), nilai rata- rata 7.357857 dan standar deviasi 0.71825.
Data pada tabel 2. menunjukan gambaran distribusi frekuensi nilai prestasi belajar siswa SMP Negeri 10 Kendari. pada mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial.berdasarkan tabel tersebut di peroleh bahwa 32 siswa atau 28.57% siswa tergolong tinggi, dan 61 atau 54.46% siswa tergolong sedang, dan 19 atau 16,96% siswa tergolong rendah.
Tabel 2. distribusi frekuensi prestasi belajar ilmu pengetahuan sosial di SMP Negeri 10 Kendari.
Interval skor frekuensi persentasi kategori
8.071682 ≤ Y 32 28.57142 Tinggi
6.644032 ≤ Y ≤ 8.071682 61 54.4642 sedang
Y ≤ 6.644032 19 16.9642 rendah




2. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data-data yang di gunakan dalam penelitian ini dapat dapat di gunakan ada tiga cara:
a) Kuesioner
Kuisioner di gunakan untuk mengumpulkan data-data tentang motivasi dan prestasi siswa. Kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan 5 alternatif jawaban dan skor sikap hitung dengan menggunakan skala rikert, yaitu: sangat sering = 5, sering = 4, kadang-kadang = 3, jarang = 2, tidak pernah = 1. ini digunakan untuk pertanyaan bersifat positif. Sedangkan untuk pertanyaan yang bersifat negatif diberi skor masing-masing: sangat sering = 1, sering = 2, kadang-kadang = 3, jarang = 4, tidak pernah = 5.
b) Wawancara
Teknik wawancara di gunakan untuk melengkapi data- data tentang gambaran prestasi belajar pada mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial. Wawancara ini di tunjukan pada guru dan siswa yang sesuai dengan situasi dan kondisi subyek yang terlibat dalam interaksi sosial yang dianggap memiliki pengetahuan informasi tau data yang di butuhkan untuk menjawab fokus penelitian.(Iskandar,2009:217)
c) Pengamatan
Teknik pengamatan ini merupakan tehnik pengumpulan data yang di lakukan langsung oleh peneliti dengan secara langsung mengamati bagaimana motivasi dan prestasi siswa pada mata pelajaran ilmu sosial. Dengan cara memberikan soal- soal kepada siswa itu.di mana peneliti berperan sebagai pengamat penuh atau lengkap dari jarak relatif dekat,yaitu sama sekali tidak berpartisipatif dalam kegiatan subyek,melainkan semata- mata hanya mengamati.

F. Teknik Analisis Data
Data- data yang telah di kumpulkan dengan menggunakan angket paduan dari beberapa peneliti sebelumnya mengenai motivasi belajar, yang di dalamnya berisi jumlah pertanyaan yang bersifat posirif dan negatif,di mana siswa di minta salah satu pilihan dari lima jawaban yang disediakan. Adapun pemberian skor untuk pertanyaan positif yaitu untuk pilihan A di beri skor 5, pilihan B di beri skor 4, pilihan C di beri skor 3, pililihan D di beri skor 2, pilihan E di beri skor 1.sedangkan untuk pertanyaan negatif yaitu pilihan A di beri skor 1, pilihan B di beri skor 2, pilihan C di beri skor 3, pilihan D di beri skor 4, pilihan E di beri skor 5.
Setalah data di kumpulkan maka akan di tabulasi dan standardizad (di normalkan) selanjutnya di hitung nilai rata- ratanya,modus dan median sebelmnya di lakukan perhitungan analisis statistik dengan menggunakan rumus korelasi product moment, maka terlebih dahulu di adakan persyaratan product moment dan dengan cara uji normalitas dan homogenitas data.
a. uji normalitas data

X2hit =

Dimana = X2hit = Nilai chi kuadrat hitung
Oi ¬ = Frekuensi hasil pengamatan
Ei = Frekuensi teoritik
Kreteria pengujia adalah jika X2 hit < a ="0,05.k-1)"> X2 tabel maka dapat berdistribusi tidak normal.
b. uji homogenitas data
f.hitung varians terbesar
varians terkecil
(Sudjana,2005:273)
Kreteria pengujiannya adalah jika nilai F hitung <>