Cari

Memuat...

Sabtu, 11 Desember 2010

Penerapan Strategi Pembelajaran Afektif Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Sejarah Siswa Kelas XI IS3 SMA Negeri Moramo

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan nasional memiliki tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki budi pekerti yang luhur, pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Yahya 2003: 36). Oleh karena itu pemerintah melakukan pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan.

Pendidikan dipandang sebagai salah satu faktor utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi, yaitu melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja terdidik. Di samping itu pendidikan dipandang mempunyai peranan penting dalam menjamin perkembangan dan kelangsungan bangsa. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai tugas untuk menghantarkan peserta didik untuk mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Sekolah juga dipercaya sebagai satu-satunya cara agar manusia pada zaman sekarang dapat hidup mantap di masa yang akan datang. Keberhasilan pendidikan di sekolah sangat tergantung pada proses belajar-mengajar di kelas. Dalam pembelajaran di sekolah, terdapat banyak unsur yang saling berkaitan dan menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Unsur-unsur tersebut adalah: pendidik (guru), peserta didik (siswa), kurikulum, pengajaran, tes, dan lingkungan. Siswa sebagai subjek dalam proses tersebut juga sangat berperan dalam keberhasilan kegiatan belajar mengajar (Sudjana, 2000: 2).

Salah satu tugas pendidik atau guru adalah menciptakan suasana pembelajaran yang dapat memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dengan baik dan bersemangat. Suasana pembelajaran yang demikian akan berdampak positif dalam pencapaian prestasi belajar yang optimal. Oleh karena itu guru sebaiknya memiliki kemampuan dalam memilih metode dan media pembelajaran yang tepat. Ketidaktepatan dalam penggunaan metode dan media akan menimbulkan kejenuhan bagi siswa dalam

menerima materi yang disampaikan sehingga materi kurang dapat dipahami yang akan mengakibatkan siswa menjadi apatis.

Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah adalah sejarah. Pengajaran sejarah memiliki tujuan dalam menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran nasionalisme. Tanpa mengetahui sejarahnya, tidak mungkin bangsa tersebut mengenal dan memiliki identitas (Kartodirjo, 1992: 247). Dalam hubungannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, secara umum tujuan mempelajari sejarah, antara lain: (1) menyadarkan anak didik akan kebesaran dan kejayaan serta kelemahan-kelemahan kita sebagai suatu bangsa, (2) membangkitkan dan mengembangkan semangat nasionalisme, dan (3) menumbuhkan tekad untuk merealisir cita-cita nasional.

Undang-undang No.23 Tahun 2003 Pasal 3, menjelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Rumusan tujuan pendidikan tersebut, sarat dengan pembentukan sikap. Dengan demikian, tidaklah lengkap manakala dalam strategi pembelajaran tidak membahas strategi pembelajaran yang berhubungan dengan pembentukan sikap dan nilai. Oleh karena itu, tuntutan akan kemampuan guru untuk memilih dan memilah metode, yang sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran merupakan harapan akan keberhasilan pencapaian hasil belajar siswa dalam pelajaran Sejarah. Hal tersebut juga sejalan dengan tuntutan kurikulum saat ini yang sangat memperhatikan pentingnya metode pembelajaran yang akan digunakan oleh seorang guru.

Keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh guru yang melakukan transfer ilmu (knowledge transfer) melalui proses pembelajarannya, dalam hal ini strategi pembelajaran menjadi penting. Muhamad Nurdin (2004), menyatakan, metode yang sering digunakan dalam proses pembelajaran tersebut, antara lain : (a) metode ceramah; (b) metode tanya jawab; (c) metode diskusi; (d) metode pemberian tugas; (e) metode demonstrasi; (f) metode karyawisata; (g) metode kerja kelompok (inquiry); (h) metode bermain peran; (i) metode dialog; (j) metode bantah membantah; dan (k) metode bercerita, dan lain-lain.

Tujuan pembelajaran dapat tercapai jika guru dapat mengoptimalkan faktor-faktor yang menjadi pendukungnya, sedangkan faktor penghambat dapat diminimalisir atau dihilangkan. Terdapat banyak metode pembelajaran, dan dari sekian banyak metode pembelajaran terebut, dapat dikatakan bahwa tidak ada model pembelajaran yang lebih baik dari pada model pembelajaran satu dengan model pembelajaran yang lain. Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan menerapkan berbagai model pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sangat beraneka ragam tersebut. Tidaklah cukup bagi seorang guru untuk hanya menggantungkan diri pada satu model pembelajaran saja.

Dalam menerapkan Strategi Pembelajaran Afektif, guru Sejarah diharapkan dapat menciptakan suasana kelas yang hidup dan menyenangkan bagi siswa, sehingga minat belajar, dan motivasi siswa meningkat, yang pada gilirannya tujuan pembentukan nilai-nilai dan sikap hidup dapat diterapkan dalam lingkungan sekolah dan masyarakat.

Diharapkan, dengan bermodalkan pada kemampuan melaksanakan berbagai strategi pembelajaran yang dikuasainya, maka guru dapat memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan cocok dengan lingkungan belajar di sekolahnya masing-masing.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengambil judul Penerapan Strategi Pembelajaran Afektif Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Sejarah Siswa Kelas XI IS3 SMA Negeri 1 Unaaha.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permaslahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah Penerapan Strategi Pembelajaran Afektif dapat Meningkatkan Hasil Belajar Sejarah Siswa Kelas XI IS3 SMA Negeri 1 Unaaha?

2. Bagaimanakah Model Penerapan Pembelajaran Afetif yang dapat Meningkatkan Hasil Belajar Sejarah Siswa Kelas XI IS3 SMA Negeri 1 Unaaha?

C. Tujuan Penelitian

Dari uraian rumusan maslah di atas, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian adalah:

1. Untuk mengetahui apakah penerapan strategi pembelajaran afektif dapat meningkatkan hasil belajar sejarah siswa kelas XI IS3 SMA Negeri 1 Unaaha.

2. Untuk mengetahui Model Penerapan Pembelajaran Afektif yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IS3 SMA Negeri 1 Unaaha.

D. Manfaat Penelitian

Secara garis besar hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut :

1. Manfaat Teoretis

a. Memberikan sumbangan pengetahuan dan bahan tambahan referensi bagi pengembangan ilmu, khususnya tentang penelitian tindakan kelas.

b. Sebagai bahan referensi untuk mengkaji permasalahan yang sama dengan lingkup yang lebih luas.

2. Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi para guru yang mengampu di sekolah menegah atas untuk lebih meningkatkan kompetensinya dalam mengajar dalam mata pelajaran Sejarah.

b. Memberi masukan tentang salah suatu upaya dalam meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Sejarah melalui strategi pembelajaran afektif dalam pembelajaran.

E. Kajian Pustaka

1. Kerangka Konsep

a. Konsep Belajar

Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa dan raga untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Gerak raga yang ditunjukkan harus sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan perubahan (Syaiful 2002: 13). Sementara itu Slameto (2003: 2) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Hampir senada dengan pendapat di atas, Winkel (1991: 36) mendefinisikan belajar sebagai suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah obyek terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa yang memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari oleh siswa berupa keadaan alam, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, atau hal-hal yang dijadikan bahan belajar (Dimyati dan Mudjiono, 2002: 7).

Belajar adalah suatu kegiatan yang melibatkan individu secara keseluruhan, baik fisik maupun psikis, untuk mencapai perubahan dalam tingkah laku (Darsono 2001: 32). Sementara itu Walker (Ahmadi 1990: 119) mengartikan belajar sebagai perubahan sebagai akibat dari adanya pengorbanan yang merupakan proses dimana tingkah laku individu ditimbulkan atau diubah melalui latihan dan pengalaman.

Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.

b. Konsep Hasil Belajar

Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motrik (Sukmadinata, 2004: 102).

Hasil belajar merupakan bentuk peubahan tingkah laku yang cenderung menetap dari ranah kognitif, afektif dan psikomotoris dari proses belajar yang dilakukan dalam waktu tertentu (Jihad dan Haris, 2009: 14). Sedangkan Sudjana berpendapat bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalamannya belajarnya (Jihad dan Haris, 2009: 15).

Hasil belajar merupakan hasil evaluasi belajar yang diperoleh atau dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam kurun waktu tertentu. Bentuk konkrit dari hasil belajar adalah dalam bentuk skor akhir dari evaluasi yang dimasukkan dalam nilai raport. Untuk mengetahui hasil belajar siswa dilakukan evaluasi.

Hasil belajar merupakan wujud yang menggambarkan usaha belajar yang melibatkan interaksi antara guru dan siswa, ataupun orang lain dan lingkungannya. Dari pengertian ini dapat dikatakan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai siswa setelah melalui proses belajar yang ditunjukkan dalam bentuk angka, huruf ataupun tindakan yang mencerminkan prestasi anak dalam periode tertentu dalam belajar.

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Belajar merupakan proses yang menimbulkan terjadinya perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku atau kecapakan. Jadi berhasil tidaknya seseorang dalam proses belajar tergantung dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Menurut Slameto (1995: 54) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat digolongkan dalam dua bagian, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

Faktor ekstern adalah faktor yang mempengaruhi hasil belajar yang berasal dari luar diri siswa. Faktor-faktor ekstern itu antara lain :

1) Latar belakang pendidikan orang tua

Latar belakang pendidikan orang tua paling mempengaruhi prestasi belajar. Semakin tinggi pendidikan orang tua, maka anak dituntut harus lebih berprestasi dengan berbagai cara dalam pengembangan prestasi belajar anak.

2) Status ekonomi sosial orang tua

Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar selain harus terpenuhi kebutuhan pokoknya. Jika anak hidup dalam keluarga yang miskin, kebutuhan pokok anak kurang terpenuhi, akibatnya kesehatan anak terganggu. Akibatnya, belajar anak juga terganggu.

3) Ketersediaan sarana dan prasarana di rumah dan sekolah

Sarana dan prasarana mempunyai arti penting dalam pendidikan dan sebagai tempat yang strategis bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sekolah harus mempunyai ruang kelas, ruang guru, perpustakaan, halaman sekolah dan ruang kepala sekolah. Sedangkan di rumah diperlukan tempat belajar dan bermain, agar anak dapat berkeasi sesuai apa yang diinginkan. Semua tujuan untuk memberikan kemudahan pelayanan anak didik

4) Media yang di pakai guru

Media digunakan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya media yang digunakan dalam pendidikan yang dirancang. Bervariasi potensi yang tersedia melahirkan media yang baik dalam pendidikan yang berlainan untuk setiap sekolah.

5) Kompetensi guru

Kompetensi guru adalah cara guru dalam pembelajaran yang dilakukannya terhadap siswa dengan metode atau program tertentu . Metode atau program disusun untuk dijalankan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya program pendidikan yang dirancang. Bervariasi potensi yang tersedia melahirkan metode pendidikan yang berlainan untuk setiap sekolah.

Faktor Intern adalah faktor yang mempengaruhi hasil belajar yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor-faktor intern itu antara lain :

1) Kesehatan

Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Siswa yang kesehatannya baik akan lebih mudah dalam belajar dibandingkan dengan siswa yang kondisi kesehatannya kurang baik, sehingga hasil belajarnya juga akan lebih baik.

2) Kecerdasan / intelegensia

Kecerdasan/intelegensia besar pengaruhnya dalam menentukan seseorang dalam mencapai keberhasilan. Seseorang yang memiliki intelegensi yang tinggi akan lebih cepat dalam menghadapi dan memecahkan masalah, dibandingkan dengan orang yang memiliki intelegensi rendah. Dengan demikian intelegensi memegang peranan dalam keberhasilan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Demikian pula dalam prestasi belajar. Siswa yang memiliki tinggi, prestasi belajarnya juga akan tinggi, sementara siswa yang memiliki intelegensia rendah maka prestasi yang diperoleh juga akan rendah.

3) Cara belajar

Cara belajar seseorang mempengaruhi pencapaian hasil belajarnya. Belajar tanpa memperhatikan teknik dan faktor fisiologis, psikologis dan ilmu kesehatan akan memperoleh hasil yang kurang memuaskan.

4) Bakat

Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Siswa yang belajar sesuai dengan bakatnya akan lebih berhasil dibandingkan dengan orang yang belajar di luar bakatnya.

5) Minat

Seorang siswa yang belajar dengan minat yang tinggi maka hasil yang akan dicapai lebih baik dibandingkan dengan siswa yang kurang berminat dalam belajar.

6) Motivasi

Motivasi sebagai faktor intern berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbuatan belajar. Dengan adanya motivasi maka siswa akan memiliki prestasi yang baik, begitu pula sebaliknya.

d. Strategi Pembelajaran Afektif

Belajar dipandang sebagai upaya sadar seorang individu untuk memperoleh perubahan perilaku secara keseluruhan, baik aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Namun hingga saat ini dalam praktiknya, proses pembelajaran di sekolah tampaknya lebih cenderung menekankan pada pencapaian perubahan aspek kognitif (intelektual), yang dilaksanakan melalui berbagai bentuk pendekatan, strategi dan model pembelajaran tertentu. Sementara, pembelajaran yang secara khusus mengembangkan kemampuan afektif tampaknya masih kurang mendapat perhatian. Kalaupun dilakukan mungkin hanya dijadikan sebagai efek pengiring (nurturant effect) atau menjadi hidden curriculum, yang disisipkan dalam kegiatan pembelajaran yang utama yaitu pembelajaran kognitif atau pembelajaran psikomotor.

Pembelajaran afektif berbeda dengan pembelajaran intelektual dan keterampilan, karena segi afektif sangat bersifat subjektif, lebih mudah berubah, dan tidak ada materi khusus yang harus dipelajari. Hal-hal diatas menuntut penggunaan metode mengajar dan evaluasi hasil belajar yang berbeda dari mengajar segi kognitif dan keterampilan. Ada beberapa model pembelajaran afektif. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sukmadinata ((http://ramlannarie.wordpress.com/2010/03/06/model-pembelajaran-afektif-sikap/)), maka ada beberapa model pembelajaran afektif yang populer dan banyak digunakan yaitu sebagai berikut:

(1) Model Konsiderasi

Manusia seringkali bersifat egoistis, lebih memperhatikan, mementingkan, dan sibuk dan sibuk mengurusi dirinya sendiri. Melalui penggunaan model konsiderasi (consideration model) siswa didorong untuk lebih peduli, lebih memperhatikan orang lain, sehingga mereka dapat bergaul, bekerja sama, dan hidup secara harmonis dengan orang lain.

Langkah-langkah pembelajaran konsiderasi: (1) menghadapkan siswa pada situasi yang mengandung konsiderasi, (2) meminta siswa menganalisis situasi untuk menemukan isyarat-isyarat yang tersembunyi berkenaan dengan perasaan, kebutuhan dan kepentingan orang lain, (3) siswa menuliskan responsnya masing-masing, (4) siswa menganalisis respons siswa lain, (5) mengajak siswa melihat konsekuesi dari tiap tindakannya, (6) meminta siswa untuk menentukan pilihannya sendiri.

(2) Model pembentukan rasional

Dalam kehidupannya, orang berpegang pada nilai-nilai sebagai standar bagi segala aktivitasnya. Nilai-nilai ini ada yang tersembunyi, dan ada pula yang dapat dinyatakan secara eksplisit. Nilai juga bersifat multidimensional, ada yang relatif dan ada yang absolut. Model pembentukan rasional (rational building model) bertujuan mengembangkan kematangan pemikiran tentang nilai-nilai.

Langkah-langkah pembelajaran rasional: (1) menigidentifikasi situasi dimana ada ketidakserasian atu penyimpangan tindakan, (2) menghimpun informasi tambahan, (3) menganalisis situasi dengan berpegang pada norma, prinsip atu ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam masyarakat, (4) mencari alternatif tindakan dengan memikirkan akibat-akibatnya, (5) mengambil keputusan dengan berpegang pada prinsip atau ketentuen-ketentuan legal dalam masyarakat.

(3) Klarifikasi nilai

Setiap orang memiliki sejumlah nilai, baik yang jelas atau terselubung, disadari atau tidak. Klarifikasi nilai (value clarification model) merupakan pendekatan mengajar dengan menggunakan pertanyaan atau proses menilai (valuing process) dan membantu siswa menguasai keterampilan menilai dalam bidang kehidupan yang kaya nilai. Penggunaan model ini bertujuan, agar para siwa menyadari nilai-nilai yang mereka miliki, memunculkan dan merefleksikannya, sehingga para siswa memiliki keterampilan proses menilai.

Langkah-langkah pembelajaran klasifikasi nilai: (1) pemilihan: para siswa mengadakan pemilihan tindakan secara bebas, dari sejumlah alternatif tindakan mempertimbangkan kebaikan dan akibat-akibatnya, (2) mengharagai pemilihan: siswa menghargai pilihannya serta memperkuat-mempertegas pilihannya, (3) berbuat: siswa melakukan perbuatan yang berkaitan dengan pilihannya, mengulanginya pada hal lainnya (http://ramlannarie.wordpress.com/2010/03/06/model-pembelajaran-afektif-sikap/)

(4) Pengembangan moral kognitif

Perkembangan moral manusia berlangsung melalui restrukturalisasi atau reorganisasi kognitif, yang yang berlangsung secara berangsur melalui tahap pra-konvensi, konvensi dan pasca konvensi. Model ini bertujuan membantu siswa mengembangkan kemampauan mempertimbangkan nilai moral secara kognitif.

Langkah-langkah pembelajaran moral kognitif: (1) menghadapkan siswa pada suatu situasi yang mengandung dilema moral atau pertentangan nilai, (2) siswa diminta memilih salah satu tindakan yang mengandung nilai moral tertentu, (3) siswa diminta mendiskusikan/ menganalisis kebaikan dan kejelekannya, (4) siswa didorong untuk mencari tindakan-tindakan yang lebih baik, (5) siswa menerapkan tindakan dalam segi lain (http://ramlannarie.wordpress.com/2010/03/06/model-pembelajaran-afektif-sikap/)

(5) Model nondirektif

Para siswa memiliki potensi dan kemampuan untuk berkembang sendiri. Perkembangan pribadi yang utuh berlangsung dalam suasana permisif dan kondusif. Guru hendaknya menghargai potensi dan kemampuan siswa dan berperan sebagai fasilitator/konselor dalam pengembangan kepribadian siswa. Penggunaan model ini bertujuan membantu siswa mengaktualisasikan dirinya.

Langkah-langkah pembelajaran nondirekif: (1) menciptakan sesuatu yang permisif melalui ekspresi bebas, (2) pengungkapan siswa mengemukakan perasaan, pemikiran dan masalah-masalah yang dihadapinya,guru menerima dan memberikan klarifikasi, (3) pengembangan pemahaman (insight), siswa mendiskusikan masalah, guru memberrikan dorongan, (4) perencanaan dan penentuan keputusan, siswa merencanakan dan menentukan keputusan, guru memberikan klarifikasi, (5) integrasi, siswa memperoleh pemahaman lebih luas dan mengembangkan kegiatan-kegiatan positif (http://ramlannarie.wordpress.com/2010/03/06/model-pembelajaran-afektif-sikap/).

2. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang dilakukan oleh Seminar (2010: 28) dengan judul Penerapan Strategi Pembelajaran Afektif dalam Meningkatakan Hasil Belajar PKn Siswa Kelas VI SD Negeri Lalomeura Kecamatan Besulutu Kabupaten Konawe. Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa pemahaman siswa kelas VI SD Negeri Lalomeura terhadap materi PKn dapat ditingkatkan melalui Penerapan Pembelajaran Afektif . hal ini dapat dilihat dari hasil tes pada setiap siklus, yaitu pada siklus I pemahaman siswa meningkat dari 59,09% dengan rata-rata 69,77 pada tes awal, menjadi 81,81% dengan nilai rata-rata 73,86 pada tes siklus pertama. Pada siklus II pemahaman siswa semakin meningkat menjadi 90,40% dengan nilai rata-rata 77,27.

Penelitian lain yang diakukan oleh La Kamarudin (2009: 163) dengan judul Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Sejarah Melalui Model Pembelajran Kooperatif Tipe Jigsaw Pada Siswa Kelas XI IPS2 SMA Negeri 2 Raha. Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa, (1) melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw yang diterapakan pada siswa kelas XI IPS2 SMA Negeri 2 Raha aktivitas belajar sejarah yang dilakukan di kelas oleh siswa baik secara individu maupun secara kelompok dapat meningkat selama mengikuti kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam siklus berulang. (2) melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw yang diterapakan pada siswa kelas XI IPS2 SMA Negeri 2 Raha hasil belajar sejarah dapat meningkat pada tahap evaluasi pembelajaran yang dilakukan dalam siklus berulang.

3. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian pustaka di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah: dengan menerapkan strategi pembelajaran afektif dalam proses pembelajaran, maka hasil belajar sejarah pada siswa kelas XI IS3 SMA Negeri 1 Unaaha dapat ditingkatkan.

F. Metode Penelitian

1. Waktu dan Tempat

Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan, mulai dari bulan Juni-Agustus 2011 dan akan dilaksanakan di SMA Negeri 1 Unaaha Kecamatan Unaaha Kabupaten Konawe.

2. Subyek Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI IS3 SMA Negeri 1 Unaaha yang beejumlah 36 orang. Subyek ini perlu ditingkatkan hasil belajarnya karena hasil yang diperoleh pada mata pelajaran Sejarah sangat tidak memuaskan. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa di kelas ini maka digunakan Model Pembelajaran Afektif.

3. Aspek yang diteliti

Ada tiga aspek yang diteliti dalam penelitian ini, yaitu:

(a) Guru, mengamati aktivitas guru dalam menyajikan materi pelajaran sesuai dengan model pembelajaran afektif serta bagaimana cara guru dan peneliti merancang atau merencanakan tindakan perbaikan untuk pertemuan selanjutnya.

(b) Siswa, mengamati aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran dan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran setelah proses pembelajaran selesai.

(c) Hasil belajar, yaitu untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran sejarah melalui penerapan mdel pembelajaran afektif.

4. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:

a. Catatan Lapangan

Catatan lapangan berisikan catatan tertulis tentang apa yang didengar, dialami, dan refleksi data. Catatan lapangan dalam penelitian ini terfokus pada perilaku guru dalam pembelajaran, refleksi kondisi pembelajaran, perkembangan pembelajaran, pencapaian materi pembelajaran, partisipasi siswa, dan refleksi perilaku siswa baik secara perorangan ataupun perkelompok (Ahiri, 2008: 171).

b. Tape Recorder

Tape recorder dalam penelitian ini digunakan untuk merekam percakapan antara subyek di dalam kelas secara perorangan dan sekaligus secara berkelompok (Ahiri, 2008: 172).

c. Tes

Tes yang digunakan dalam penelitian ini berguna untuk mendiagnosa kekuatan dan kelemahan siswa, mengetahui perkembangan siswa, menentukan peringakat siswa, dan menentukan keefektifan pembelajaran. Dalam hal ini tes dirancang untuk mengukur dan menentukan keberartian hasil belajar siswa (Ahiri, 2008: 174).

5. Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, setiap siklus dilakukan dalam 3 kali tatap muka dan setiap tatap muka dilaksanakan 2x45 menit.

Penelitian tindakan mengikuti prosedur berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi (Aqib, 2007: 30).

Secara rinci prosedur penelitian tindaka kelas ini di jabarkan sebagai berikut:

1) Perencanaan, kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini yaitu:

a. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

b. Membuat lembar observasi baik untuk pendidik maupun untuk peserta didik dalam melihat proses pembelajaran di kelas ketikan model pembelajaran afektif diaplikasikan.

c. Menyiapkan materi pembelajaran dalam rangka membantu siswa memahami konsep-konsep sejarah dengan baik.

d. Mendesain alat evaluasi unutk melihat sejauh mana sejarah telah dikuasai siswa.

2) Pelaksanaan Tindakan, kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah melaksanakan rencana pembelajaran yang telah di buat (sesuai dengan kurikulum).

3) Observasi, pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi. Dalam hal ini, peneliti mengamati seluruh aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran dan kemampuan siswa setelah diajar maupun aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran dan menerapkan model pembelajaran afektif.

4) Refleksi, hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis untuk melihat kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang terjadi pada setiap pertemuan, dalam satu siklus akan diperbaiki pada pertemuan berikutnya atau pada siklus berikutnya.

6. Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif dalam penelitian ini menggunakan analisis Milles-Huberman (1992: 17) yang meliputi 3 tahap kegiatan yaitu, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Reduksi data dilakukan dengan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan dan pengabstrasian data mentah menjadi informasi yang bermakna. Penyajian data dilakukan dengan cara menyusun deskripsi dari informasi yang telah dipilih dan diseleksi pada tahap reduksi data sehingga dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan yang relevan. Penarikan kesimpulan, merupakan pemberian makna terhadap data yang telah direduksi.

Sedangkan analisis kuantitatif menggunakan teknik analisis deskriptif yaitu menentukan nilai rata-rata siswa, dan persentase hasil belajar siswa. Adapun rumus statistik analisis kuantitatif adalah sebagai berikut:

a. Menentukan nilai rata-rata

Keterangan: = Nilai rata-rata siswa

N = banyaknya siswa (Sugiyono, 2006: 43)

b. Menentukan persentase hasil belajar siswa

Keterangan:

N = banyaknya siswa

7. Indikator Kinerja

Indikator keberhasilan dalam penelitiani ini adalah (1) indikator kinerja setiap peserta didik yaitu dengan melihat hasil tes belajarnya pada akhir setiap siklus setelah diterapkannya pembelajaran afektif dalam pembelajaran. (2) indikator aktivitas kelompok peserta didik yang akan diamati adalah aktivitas setiap kelompok selama proses pembelajaran berlangsung, yaitu: perhatian pada materi yang disampaikan guru, aktivitas berdiskusi antar peserta didik/guru dalam memecahkan masalah, mengungkapkan ide dengan berbagai cara, aktif mengerjakan LKS dalam belajar, aktif dalam kegiatan dan menyusun konsep tentang hal-hal yang dipelajari, aktif membangun gagasan dan ide, bekerjasama dalam menyiapkan laporam dan mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas. Sedangkan indikator proses pembelajaran yang akan diamati dalam kegiatan ini adalah langkah-langkah penerapan pembelajaran afektif yang dilaksanakan oleh guru selama kegiatan pembelajaran berlangsung. (3) indikator hasil belajar mata pelajaran sejarah dikatakan meningkat apabila 75% siswa mencapai nilai 65 dari materi yang dipelajari, dan indicator kinerja kelompok rata-rata 80% telah melaksanakan indikator yang diamati dalam lembar observasi kegiatan siswa selama proses kerja kelompok, dan indicator proses pembelajaran ditetapkan jika kegiatan proses pembelajaran yang disajikan guru mencapai kategori baik atau 80% telah melaksanakan langkah-langkah pembelajaran afektif. Jika dalam pelaksanaan suatu siklus belum mencapai hasil seperti itu, maka dilanjutkan pada siklus berikutnya. Dan dalam penelitia ini siklus hanya berakhir pada siklus kedua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar